Revolusi Amerika yang berhasil
menyatakan Declaration of Independence pada tahun 1776 telah melahirkan negara
Amerika Serikat lepas dari negara induk Inggris. Declaration of Independence
yang menyuarakan adanya hak-hak asasi manusia seperti hak hidup, hak kebebasan,
dan hak untuk memiliki sesuatu telah menggema di Benua Amerika dan menyebar
luas ke kawasan lain di negara-negara di Asia dan Afrika. Pernyataan tersebut
merupakan pernyataan yang progresif. Amerika merupakan contoh pertama sebuah
negara koloni yang berjuang untuk kemerdekaan dan mewujudkan suatu pemerintahan
yang demokratis.
Dengan demikian Revolusi Amerika
telah mendorong munculnya gerakan untuk menentang penjajahan asing di
Indonesia. Gerakan yang semula bersifat kedaerahan, kemudian berkembang menjadi
gerakan nasional. Gerakan nasional di Indonesia bertujuan untuk memperoleh
kemerdekaan dan membentuk pemerintahan yang demokratis.
Revolusi
Perancis (1789 – 1799 )
Pada awal abad XVII M, keadaan negara di Eropa diperintah
oleh raja-raja yang mempunyai kekuasaan absolut, kecuali Inggris.
Ciri-ciri kekuasaan absolut sebagai berikut :
1.
Kekuasaan raja tidak terbatas.
2.
Kekuasaan raja tidak diatur dan tidak dibatasi oleh
undang-undang.
3.
Kekuasaan raja tidak diawasi oleh parlemen.
4.
Raja menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan sehingga
tidak pernah salah.
5.
Raja memerintah secara turun temurun.
Keadaan
politik di Perancis
Di Perancis berkembang kekuasaan raja yang bersifat
monarki absolut. Kekuasaan ini berkembang karena adanya pengaruh dari ajaran
Nicolo Machiaveli dari Perancis. Ia menulis ajarannya dalam buku II Principe (
Sang Raja ). Buku ini menggambarkan kekuasaan raja yang absolut dan mutlak.
Contoh raja Perancis yang menganut sistem monarki absolut adalah Louis XIV.
Semboyan raja Louis XIV yang terkenal, yaitu L”etat c”est moi ( Negara adalah
Saya ).
Keadaan
Masyarakat di Perancis
Masyarakat Prancis terbagi tiga golongan :
1)
Golongan 1 :
golongan bangsawan dengan hak-hak istimewa dan
memegang
kekuasaan dalam pemerintah. Bebas pajak,
tetapi menarik pajak.
2)
Golongan 2 :
golongan agama yang setia kepada raja. Tidak bayar pajak.
3)
Golongan 3 :
golongan dagang, pekerja, dan rakyat kecil. Wajib bayar pajak.
Tokoh
penganjur perubahan dalam bidang sosial politik
1.
Denis Dedorat ( 1685-1753 ) dan J.D.D”Alembert (1717-1784
) berhasil menyusun sebuah Ensiklopedia yang memuat segala pengetahuan yang
rasional sehingga merupakan kritik-kritik terhadap peraturan yang kolot.
2.
John Locke (1685-1753) seorang ahli tata negara berasal
dari Inggris. Mengatakan bahwa suatu negara akan baik jika ada pembagian
kekuasaan, yaitu :
a)
Legislative Power ( pembuat undang-undang ).
b)
Executive Power ( pelaksana undang-undang ).
c)
Attributive Power ( pengawas undang-undang ).
3.
Montesqieu ( 1689-1755 ) berasal dari Perancis. Ia
seorang bangsawan dan ahli hukum yang mengemukakan teori Trias Politica (
pemisahan Kekuasaan ), dengan tujuan agar suatu negara menjadi baik.
Trias Politica itu meliputi :
a)
Legislative Power ( pembuat undang-undang ).
b)
Executive Power ( pelaksana undang-undang ).
c)
Attributive Power ( pengawas undang-undang ).
4.
Voltaire ( 1694-1778 ) seorang bangsawan Perancis dan
seorang ahli kebebasan.
5.
Jean Jacques Rousseau ( 1712-1778 ) seorang bangsawan
Perancis. Ia seorang ahli pendidikan dan terkenal sebagai Bapak Demokrasi.
Karyanya yang terkenal adalah “Du Contract Social” ( perjanjian rakyat ).
Sebab-sebab
Revolusi Perancis
I.
Sebab-sebab umum Revolusi Perancis
a.
Adanya kepincangan dalam masyarakat.
b.
Adanya pengaruh rasionalisme dan Aufklarung.
c.
Pengaruh perang kemerdekaan Amerika Serikat ( 1776 ).
d.
Berkembangnya paham feodalisme.
e.
Berkembangnya kekuasaan raja yang bersifat monarki
absolut.
f.
Adanya vacum of power ( kekosongan kekuasaan ).
II.
Sebab Khusus Revolusi Perancis
Pada
saat itu, keadaan keuangan negara Perancis kosong karena dihambur-hamburkan
oleh raja bersama permaisurinya yang bernama Maria Antoinette. Golongan pajak
dan golongan agama tidak membayar pajak karena sebelumnya tidak wajib pajak.
Akibatnya, rakyat yang menanggung beban berbagai macam pajak.
Tujuan Revolusi Perancis
Revolusi
Perancis bertujuan untuk menumbangkan kekuasaan raja yang bersifat monarki
absolut ( feodal ). Revolusi Perancis didukung dengan semboyan kebebasan,
persamaan, dan persaudaraan ( liberte, egalite, dan fraternite ).
Meletusnya Revolusi Perancis
Pada
tanggal 14 Juli 1789, rakyat yang marah menyerbu Penjara Bastille. Mereka
membubarkan semua tahanan politik yang seluruhnya berjumlah tujuh orang,
membunuh penjaga penjara dan para pejabatnya serta merebut amunisi yang
tersimpan di penjara tersebut.
Dampak Revolusi Perancis
1.
Munculnya paham nasionalisme.
2.
Munculnya paham demokrasi.
3.
Munculnya perlindungan hak asasi manusia.
4.
Munculnya golongan terpelajar akibat adanya politik etis.
Golongan terpelajar inilah yang peduli akan nasib bangsanya. Mereka ingin
menyelamatkan bangsanya dari kebodohan dan keterbelakangan akibat penjajahan.
Oleh karena itu, mereka mendirikan organisasi-organisasi yang bertujuan
memajukan bangsanya.
Revolusi Prancis yang mempunyai
semboyan liberte, egalite, dan fraternite telah mendorong berkembangnya
liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme. Semboyan egalite adalah semboyan
cita-cita kebebasan dan kemerdekaan, yang pada waktu itu menjadi dasar perjuangan
kaum Borjuis dan warga kota, para pengusaha, dan pedagang. Mereka memiliki jiwa
bebas sehingga melahirkan paham liberalisme. Egalite juga menjadi ciri
kehidupan masyarakat kota dan para pengusaha. Egalite telah mendorong
berkembangnya nilai-nilai demokrasi. Sementara itu, semboyan fraternite telah
memupuk rasa persaudaraan dan rasa persatuan di antarawarga negara sehingga
menimbulkan nasionalisme.
Liberalisme, demokrasi, dan
nasionalisme ternyata telah berkembang cepat di Prancis dan di negara-negara
Eropa yang lain. Bahkan, paham-paham tersebut pada akhir abad ke-19 dan awal
abad ke-20 memasuki kawasan lain, terutama negara-negara yang berada di bawah
dominasi kekuasaan bangsa lain.
Liberalisme, demokrasi, dan
nasionalisme telah mendorong lahirnya pergerakan yang bertujuan untuk menentang
imperialisme dan kolonialisme di negara-negara di Amerika Latin, Asia, dan
Afrika, misalnya sebagai berikut.
a. Perjuangan rakyat Amerika Latin
untuk menentang penjajahan Spanyol dan Portugis (1807–1828).
b. Di kawasan Eropa telah mendorong
munculnya gerakan untuk membentuk negara kesatuan, seperti di Jerman di bawah
pimpinan Otto van Bismark, dan Italia di bawah pimpinan Perdana Menteri Cavour.
c. Perjuangan rakyat Yunani untuk
bebas dari kekuasan Turki Usmani (1821–1829).
d. Munculnya Gerakan Turki Muda di
Turki pada akhir abad ke-19.
e. Lahirnya organisasi pergerakan
nasional Asia, seperti di Turki (Gerakan Turki Muda), di Filipina (lahirnya La
Liga Filipina, Katipunan, dan sebagainya), di India (munculnya All Indian
National Congres), sedangkan di Indonesia munculnya kebangkitan nasional yang
dipelopori oleh Budi Utomo yang kemudian disusul organisasi pergerakan yang
lain, seperti Sarekat Islam, Indische Partij, dan sebagainya.
A. Dekolonisasi di Asia dan Afrika Dengan Transformasi Politik dan
Sosial di Berbagai Negara Setelah PD II
Sejak
berlangsungnya revolusi industri, banyak kawasan di Asia dan Afrika berubah
menjadi
daerah jajahan. Bangsa Eropa yang menjajah Asia meliputi : Inggris, Belanda,
Perancis,
Spanyol dan Portugis. Sedangkan di Afrika terbagi atas daerah jajahan Inggris, Perancis,
Belanda, Portugis, Jerman, Italia, Belgia, dan beberapa negara Eropa dengan daerah
kekuasaan yang terbatas. Hal ini dapat dilihat dari data, pada awal abad 19
daerah jajahan meliputi 51,5 % di wilayah Asia dan berkembang menjadi 56,6 %.
Bahkan kawasan Afrika lebih tampak, dimana pada awal abad 19 hanya 10,8 % dan
meningkat pesat menjadi 90 %.
Penguasaan
atas Asia Afrika berlangsung terus hingga Perang Dunia II (1939 – 1945).
Pada
masa tersebut timbul perlawanan terhadap negara penjajah. Selama itu pula juga
berlangsung
perubahan komposisi kolonial, terutama sebagai akibat perang dunia I (1914- 1918).
Perang dunia II ternyata membawa dampak luar biasa bagi dunia internasional
pada saat itu. Negara yang kalah terikat dengan berbagai perjanjian yang sangat
merugikan, diantaranya daerah jajahan diambilalih oleh negara pemenang perang.
Negara pemenang selain mendapat keuntungan politik, juga menghadapi kenyataan
dimana kondisi sosial, ekonomi, budaya dan masyarakatnya rusak parah akibat
perang. Kekuatan negara colonial yang lemah setelah perang ini, mendorong
rakyat di kawasan Asia Afrika untuk bangkit melawan kolonialisme.
Dekolonisasi
merupakan istilah yang digunakan bangsa Eropa dalam menjalankan
praktik
imperialisme dan kolonialisme di wilayah Asia Afrika. Namun demikian rakyat
jajahan
cenderung menggunakan istilah Perang Kemerdekaan atau Perjuangan
Kemerdekaan
untuk menentang praktik kolonialisme. Bandingkan dengan istilah perang
kemerdekaan
Indonesia (1945 – 1949) yang digunakan bangsa
Indonesia yaitu Agresi Militer I dan II dan Aksi Polisional I dan II yang
digunakan Belanda.
Setelah
perang dunia II usai, timbul dorongan dari negara pemenang perang yang
melahirkan
Atlantic Charter. Atlantic Charter merupakan hasil pertemuan presiden AS, FD Roosevelt
dengan PM Inggris, Winston Churchill. Piagam ini berisikan bahwa setiap bangsa berhak
menentukan nasibnya sendiri. Bangsa Asia Afrika termotivasi piagam tersebut dan
segera mencapai kemerdekaannya, misal India dan Indonesia.
Indonesia
yang telah merdeka sejak 17 Agustus 1945, berusaha ikut mendorong
perjuangan
bangsa lain di kawasan Asia Afrika untuk mencapai kemerdekaan. Negaranegara:
Indonesia, India, Pakistan, Srilangka dan Burma / Myanmar merintis adanya kerja
sama negara-negara di Asia Afrika dalam perdamaian dunia.
Pada
tanggal 18 – 24 April 1955 diselenggarakan
Konferensi Asia Afrika (KAA) di
Bandung.
KAA dihadiri oleh 29 negara, termasuk 5 lima penggagas. Konferensi tersebut mmenjadi
titik awal perjuangan kemerdekaan yang dikembangkan di Asia Afrika dan didukung
oleh para peserta. Pada saat diselenggarakan, banyak negara Asia Afrika menghadapi
masalah dan tantangan. Ada negara yang sudah mencapai kemerdekaan dan banyak
yang masih dibawah kekuasaan kolonial.
Pengaruh
dari KAA tahun 1955 sangat penting bagi kawasan Asia Afrika. Banyak
daerah
yang mencapai kemerdekaan, misal Tunisia dan Sudan (1956) dan disusul Negara yang
lain, terutama sekitar tahun 1960an.
Dalam
pertemuan KAA dihasilkan beberapa keputusan penting yang meliputi :
1.
Kerjasama dalam bidang ekonomi
2.
Kerjasama dalam bidang kebudayaan
3.
HAM dan hak menentukan nasib sendiri
4.
Masalah yang dihadapi rakyat yang terjajah
5.
Masalah lain
6.
Mengumandangkan perdamaian dan kerjasama dunia
7.
Deklarasi mengenai peningkatan perdamaian dan kerjasama dunia
Bangsa
Eropa menyadari perkembangan yang berlangsung, dimana mereka tidak lagi
dapat
menjalankan kolonialisme seperti masa sebelumnya. Negara Eropa secara perlahan mulai
memberikan pengakuan kedaulatan kepada daerah jajahannya. Misal Perancis memberikan
pengakuan kepada kawasan Indo China pada tahun 1954. Aljazair mendapat kemerdekaan
dari Perancis pada tahun 1962. Inggris memberikan kemerdekaan bagi beberapa
daerah jajahan dan mengubah hubungan negeri Inggris dengan bekas jajahan dalam
lingkungan persemakmuran (Commonwealth atau dominion). Hal ini diikuti pula oleh
beberapa negara Eropa yang lain. Dengan demikian setelah Perang Dunia II,
terjadi kecenderungan dekolonisasi di kawasan Asia Afrika. Muncullah berbagai
perubahan ketatanegaraan dan sosial masyarakat di kedua kawasan tersebut.
B. Perkembangan Sistem Ekonomi Internasional Dengan Perubahan
Politik dan
Ekonomi Indonesia
Sejak
berakhirnya Perang Dunia II, terjadilah perubahan besar dalam bidang politik,
ekonomi,
sosial, budaya dan militer di dunia. Setelah perang usai, kondisi perekonomian
di Eropa mengalami kerusakan parah. Kegiatan ekonomi industri perdagangan di
Eropa mengalami kerugian besar. Pada awal kemerdekaan, Indonesia mengalami
kesulitan yang dapat diuraikan
sebagai
berikut :
1.
Rusaknya lahan pertanian dan pabrik akibat perang, sehingga tidak berfungsi
maksimal
2.
Indonesia tidak dapat mengekspor impor barang karena blokade Belanda
3.
Masih beredarnya mata uang Jepang dalam jumlah besar secara tidak terkendali.
Masalah
yang dihadapi Indonesia tersebut, mendorong pemerintah menyusun kebijakan :
1.
Menerbitkan mata uang sendiri yaitu ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) pada 17
Oktober
1946 berdasarkan UU No 19 tahun 1946.
2.
Meresmikan berdirinya BNI pada tanggal 1 Nopember 1946 dengan pimpinan
Margono
Joyohadikusumo.
3.
Berusaha menembus blokade Belanda dengan membina hubungan dengan India,
mengeluarkan
Kasimo Plan serta melakukan sanering terhadap nilai mata uang
sehingga
uang Rp. 5,00 ke atas menjadi separuhnya.
Setelah
pengakuan kemerdekaan, pemerintahan Soekarno mengeluarkan beberapa
kebijakan.
Diantaranya UU No 24 tahun 1951 tanggal 15 Desember 1951 tentang
nasionalisasi
De Javaasche Bank menjadi Bank Indonesia. BI memiliki fungsi sebagai bank sentral
dan bank sirkulasi dibawah pimpinan gubernur Mr. Syafrudin Prawiranegara.Disamping
itu dikeluarkan progam Benteng atau Gerakan Benteng. Program Benteng diusulkan
Sumitro Joyohadikusumo yang saat itu menjadi menteri keuangan. Gerakan Benteng
merupakan konsep ekonomi dimana pemerintah mendorong lahirnya kelas pengusaha,
dimana rakyat bukan hanya sekedar menjadi pedagang, melainkan akan menjadi
golongan yang mau berusaha dalam perekonomian. Hal ini disebabkan pedagang umumnya
memiliki modal kecil, mereka diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam membangun
perekonomian rakyat.
Gerakan
Benteng pada akhirnya mengalami kegagalan. Adapun faktor penyebab
kegagalan
tersebut adalah :
1.
Pedagang tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai bisnis.
2.
Kehidupan masyarakat Indonesia masih terikat pada sistem sosial budaya feodal.
3.
Penjualan pemilik lisensi kepada pihak asing terutama kepada orang Cina.
4.
Terjadinya kolusi dan korupsi di kalangan pemegang lisensi.
Pertumbuhan
ekonomi sejak tahun 1950 – 1959 yang rendah berbanding
terbalik
dengan
pertumbuhan penduduk Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk Indoneia
meningkat
pesat. Berdasarkan data statistik, diperkirakan jumlah penduduk mencapai 77,2 juta
(1950), meningkat menjadi 85,4 juta (1955) dan menurut sensus tahun 1961
menjadi 97,02 juta. Produksi pertanian memang meningkat, tetapi tidak dapat
mencukupi kebutuhan nasional.
Selama
tahun 1950 – 1953, pertumbuhan ekspor
Indonesia meningkat sejalan dengan
pecahnya
Perang Korea. Negara yang semula memenuhi kebutuhan ekonomi dunia,
terkonsentrasikan
di daerah konflik dan perannya digantikan Indonesia dan negara yang baru merdeka
lainnya. Namun demikian, perkembangan ini tidak berlangsung lama. Seusai perang
Korea, negara produsen kembali menguasai pasar dunia.
Pemulihan
ekonomi Indonesia berlangsung lambat. Minyak sebagai penghasil devisa
terbesar
kedua setelah karet, merupakan harapan untuk jangka panjang. Tahun 1957,
produksi
minyak mencapai dua kali lipat dari produksi tahun 1940. Namun demikian
peningkatan
ini dikonsumsi untuk dalam negeri. Di sisi lain, sarana ekonomi yang vital
dipegang
asing. Perusahaan minyak, perbankan, perusahaan pelayaran dan kredit bagi
rakyat
kecil dipegang Amerika, Belanda, Inggris dan Cina. Sebaliknya dalam kurun waktu
Pebruari 1951 – September 1952, harga karet turun
71 persen. Lambannya pemulihan ekonomi dan peningkatan pengeluaran pemerintah
berakibat inflasi terus berlanjut. Berlangsungnya perang dingin, ikut
mempengaruhi perkembangan ekonomi dan politik di Indonesia. Memasuki tahun
1955, Indonesia mulai ikut terlibat dalam politik internasional guna membantu
bangsa lain yang belum merdeka. Sukses pelaksanaan KAA, mendorong keikutsertaan
dalam misi PBB.
Dalam waktu yang sama upaya pembebasanIrian Barat terus
dilanjutkan, bahkan cenderung mengarah pada konfrontasi langsung dengan
Belanda. Upaya ini paling tidak ikut menyedot keuangan negara untuk persiapan dan
pelaksanaan perjuangan. Disamping itu juga timbul beberapa pemberontakan separatis
di beberapa daerah hingga tahun 1960an yang juga ikut menyedot potensi ekonomi
nasional. Anggaran untuk kesejahteraan rakyat dan ekonomi dialihkan untuk menegakkan
keamanan nasional.
Memasuki
tahun 1960an, setelah upaya perjuangan pembebasan Irian Barat selesai,
maka
dikumandangkan kebijakan Dwikora tahun 1962. Potensi nasional berubah diarahkan
untuk menggagalkan pembentukan negara Malaysia. Program pembangunan ekonomi dan
sektor lain menjadi terbengkalai. Program pembangunan semesta memang disusun
oleh Djuanda, namun agak sulit dalam pelaksanaannya. Inflasi membumbung tinggi
dan harga kebutuhan rakyat tinggi. Hal ini berlangsung hingga meletusnya
pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965.
Selama
masa pemerintahan Soeharto, perkembangan ekonomi mengalami peningkatan. Hal ini
nampak dari program Pelita I hingga Pelita V. Bahkan pada Pelita IV (1984 – 1989), Indonesia mengalami perkembangan ekonomi yang cukup pesat.
Banyak pihak di dunia yang memberikan penghargaan terhadap pertumbuhan ekonomi
Indonesia.
Perkembangan
yang pesat tersebut mengalami titik balik sejak bulan Juli 1997. Di
kawasan
Asia Tenggara berlangsung krisis moneter yang diawali dengan merosotnya nilai mata
uang regional (rupiah, baht, ringgit, peso) terhadap dollar US. Nilai tukar
rupiah melemah tajam. Hal ini dapat dilihat dari 2.575/ dollar US (Juli 1997)
menurun tajam menjadi 16.000/ dollar US (Maret 1998). Penurunan serupa juga
berlangsung di pasar saham BEJ.
Kondisi
ekonomi dalam negeri ternyata tidak dapat diharapkan untuk mendukung
upaya
menstabilkan nilai rupiah. Hal ini nampak pada bulan Nopember 1998 sejumlah 16 bank
swasta ditutup oleh BI.
Perkembangan
politik pada saat itu ikut memperburuk kepercayaan pasar terhadap
perekonomian
Indonesia. Tarik ulur antara pemerintah dengan IMF mengenai kesepakatan program
bantuan IMF mempersulit keadaan. Beberapa kebijakan pemerintah dikeluarkan untuk
menstabilkan nilai tukar rupiah, misal intervensi BI dalam pasar valas dan
revisi APBN tahun 1998/ 1999.
Perpolitikan
nasional pada awal tahun 1998 menunjukkan perubahan yang cukup
signifikan.
Aksi demonstrasi yang makin luas mencapai puncak dengan peristiwa
mundurnya
Soeharto sebagai Presiden ke 2 RI tanggal 21 Mei 1998. Kecenderungan
melemahnya
rupiah terus berlanjut yang didorong adanya peristiwa 12 Mei dan aksi
kerusuhan
13 – 14 Mei di Jakarta, Solo dan
beberapa daerah lainnya. Penurunan nilai tukar rupiah berlangsung hingga pernah
mencapai Rp. 17.000 per dollar US.
Kondisi
ekonomi mengalami pertumbuhan minus 13 %, inflasi yang tinggi, suku bunga
bank
yang melambung membawa dampak buruk bagi perusahaan nasional yang terdaftar di bursa
saham. Dengan demikian, berbagai perubahan dalam bidang sosial politik ikut mempengaruhi
perkembangan ekonomi nasional Indonesia.
Pada
masa pemerintahan BJ. Habibie, telah dikeluarkan beberapa kebijakan dalam
bidang
ekonomi yang meliputi :
1.
Rekapitulasi perbankan.
2.
Rekonstruksi perekonomian nasional.
3.
Likuidasi beberapa bank yang tidak sehat, dengan demikian akan mengurangi
jumlah
bank swasta yang beroperasi.
4.
Menaikkan nilai tukar rupiah sampai dibawah Rp. 10.000,00.
5.
Implementasi reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF.
Sebagai
hasil dari perubahan politik, maka dilakukan pemilihan umum pada tahun
1999.
Pemilu 1999 menghasilkan parlemen/ DPR dengan komposisi beberapa partai yang terwakili
dan pimpinan negara yang baru yaitu Abdurrahman Wahid dan Megawati
Soekarnoputri.
Dalam perjalanan pemerintahan Gur Dur – Megawati, ternyata mengalami permasalahan politik dan berpuncak dengan penarikan mandat yang
diberikan KH. Abdurrahman Wahid. Sebagai
penggantinya, naiklah Megawati dan Hamzah Haz sebagai presiden dan wakil presiden.
Selama
masa pemerintahan Gus Dur, telah dilakukan beberapa kebijakan, diantaranya
memekarkan provinsi dari 26 menjadi 32 dan pembagian alokasi keuangan terkait
dengan kekayaan daerah dengan prosentase yang lebih baik dibanding sebelumnya.
Sejak
Megawati menjadi presiden, maka diupayakan beberapa kebijakan ekonomi
yang
meliputi :
1.
Menurunkan laju inflasi sampai 10 %.
2.
Privatisasi BUMN dengan harapan memperoleh dana yang besar.
3.
Menjual aset negara melalui BPPN dengan asumsi mendapatkan dana pembangunan yang
besar
4.
Pemutusan kerjasama dengan IMF.
5.
Restrukturisasi dan reformasi sektor keuangan.
6.
Meningkatkan pendapatan melalui perpajakan, cukai dan kepabeanan.
7.
Menciptakan suasana (politk, sosial, keamanan) yang kondusif bagi investor.
8.
Meningkatkan ekspor.
9.
Mendorong berkembangnya usaha kecil dan menengah.
10.
Meningkatkan pemanfaatan sumber daya laut.
Pada
tahun 2004, diselenggarakan pemilihan umum untuk anggota legislatif dan
presiden
serta wakil presiden. Hasilnya terpilih Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf
Kalla sebagai presiden dan wakil presiden RI periode berikutnya. Serangkaian kebijakan
disusun guna memulihkan dan membenahi masalah ekonomi nasional Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar