Minggu, 09 September 2012

Perang Dingin dan Pengaruhnya

C. Faktor Penyebab Terjadinya Perang Dingin
1. Lahirnya negara adikuasa
Perang dunia II (1939 1945) ternyata lebih dahsyat dan ruang lingkupnya lebih luas
dibanding perang dunia I (1914 1918). Perang tersebut membawa dampak luas dalam bidang politik, ekonomi dan sosial masyarakat. Dampak politik memunculkan negara adikuasa dan berlangsung persaingan Amerika Serikat dengan Uni Sovyet untuk memperebutkan pengaruh di dunia.

Perang dingin adalah suasana internasional yang sangat tegang dan bermusuhan akibat konflik ideologi antara blok Barat (liberal kapitalis) dipimpin USA dan blok Timur (sosialis komunis) dipimpin Uni Sovyet yang berkembang setelah perang dunia II.

2. Penyebab terjadinya perang dingin
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, dua negara utama pemenang perang (AS dan Uni Sovyet) berkembang menjadi dua kekuatan raksasa dunia (super power). Amerika Serikat memiliki ideology demokrasi liberal kapitalis yang didukung Inggris dan Perancis. Sedangkan Uni Sovyet berideologi komunis. Masing-masing menganggap ideologinya paling mampu menjawab persoalan bangsa-bangsa di dunia. Kedua pihak bersaing dalam perebutan hegemoni dunia di bidang ekonomi, politik, ideologi dan militer. Dengan demikian, perang dingin dapat disebabkan faktor sebagai berikut :
a. perbedaan paham
Perbedaan nampak dari Amerika Serikat yang mengembangkan liberalisme kapitalis,
sedangkan Uni Sovyet berupaya mengembangkan paham sosialis komunis.
b. keinginan berkuasa
Dalam perang dunia II, kedua negara besar bersatu melawan kelompok Poros (Jerman, Italia dan Jepang). Namun setelah perang usai, karena perbedaan paham, Amerika Serikat dan Uni Sovyet ingin menguasai dunia. Hal ini ditunjukkan melalui perebutan pengaruh, baik dalam bidang politik, ekonomi, militer maupun teknologi ruang angkasa.
Dalam persaingan, masing-masing pihak memandang pihak lain sebagai saingan atau musuh yang berbahaya. Terjadi bipolarisasi, dimana pihak-pihak yang terlibat berusaha mencari dukungan dari negara lain (negara dalam PD II) dan negara yang baru merdeka. Sehingga lahirlah blok barat (AS) dan blok timur (Uni Sovyet). Tujuan masing-masing adalah menjadi penguasa tunggal di dunia yang dapat dicapai dengan melakukan segala hal. Namun demikian, kedua blok belum pernah secara langsung berhadapan dalam perang terbuka.

Pada tanggal 4 April 1949, Amerika Serikat didukung negara-negara Eropa Barat membentuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dengan markas Brussel. Adapun anggotanya Inggris, Irlandia, Islandia, Norwegia, Denmark, Belgia, Nederland, Luxemburg, Perancis, Portugal, Kanada dan Amerika Serikat. Untuk mengimbangi NATO, Uni Sovyet membentuk Pakta Warsawa pada tahun 1951 dengan markas Warsawa. Adapun anggotanya meliputi: Uni Sovyet, Albania, Bulgaria, Cekoslovakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia dan Rumania. Kedua pihak berlomba saling mengembangkan persenjataan, mata-mata dan mempertahankan pengaruhnya bersama sekutunya masing-masing.
Istilah Perang Dingin digunakan media massa AS tahun 1948 untuk menggambarkan makin meningkatnya permusuhanantara AS dan Uni Sovyet pasca Perang Dunia II. Perang dingin dilatarbelakangi munculnya ketegangan sebagai wujud konflik kepentingan, supremasi, perbedaan ideologi, saling tidak mempercayai dan sebagainya antara blok barat dan blok timur. Perang dingin ditandai dengan peristiwa Krisis Berlin tahun 1948. Peristiwa ini terjadi ketika Uni Sovyet melanggar
Perjanjian Yalta (Pebruari 1945) dengan memblokade seluruh jalan masuk kota Berlin. Berlin adalah kota pendudukan AS dan sekutunya, namun terletak di daerah Jerman Timur. Oleh karena itu suplai bahan makanan dan keperluan lain bagi penduduk kota Berlin harus dikirim lewat udara. Krisis yang berakhir bulan Mei 1949 berakibat Jerman terpecah menjadi dua: Jerman Barat beribukota Berlin barat dan Jerman Timur beribukota Berlin Timur.

Selama perang dingin, di Uni Sovyet sendiri, rakyat hidup dibawah kontrol ketat daripada biasanya. Rakyat diberitahukan bahwa mereka telah memenangkan Perang Patriotik Terbesarnya sendiri, tanpa bantuan dari negara Barat. Kebudayaan Barat dikecam karena rendah tingkatannya.
Sebaliknya kebudayaan Sovyet dipropagandakan sebagai lebih unggul dibanding dengan yang lain.

Selama perang dingin berlangsung, kedua negara adikuasa tersebut tidak pernah terlibat dalam suatu konflik atau peperangan terbuka. Namun keduanya selalu memberikan dukungan kepada negara-negara yang sedang bersengketa. Ada beberapa hal yang mewarnai situasi perang dingin yaitu:
a. Doktrin Truman
Kebijakan Doktrin Truman muncul bulan Maret 1947, dimana pengaruh komunis Uni Sovyet pasca perang dunia II makin luas. Doktrin tersebut untuk membendung pengaruh komunis di dunia.
Tujuannya membantu Turki dan Yunani menghadapi gerilyawan komunis yang berasal dari Negara tetangganya: Yugoslavia dan Albania. Total bantuan ekonomi dan militer mencapai US$ 400 juta.Dicanangkannya kebijakan tersebut, berdasarkan keyakinan AS bahwa jika satu negara jatuh ke tangan penerintahan komunis maka akan jatuh pula negara-negara tetangganya. Keyakinan ini sesuai dengan Teori Domino.
b. Perang terbuka di beberapa negara
Kedua negara adikuasa selalu berada di belakang negara-negara yang bertikai dengan
melibatkan dukungan ideologi, politik dan militer. Diantaranya Perang Korea yang disebabkan pada tanggal 25 Juni 1950 60.000 tentara Korea Utara menyerbu Korea Selatan. PBB turun tangan dengan mengirim tentara gabungan membantu Korea Selatan melawan Korea Utara yang didukung blok Timur. Perang selama tiga tahun ini berakhir dengan gencatan senjata di Pamunjom pada 27 Juli 1953. Selain itu, Uni Sovyet membantu Mesir dan Syiria (Suriah) dalam perang melawan Israel tahun1967. Israel dibantu Inggris, Perancis dan AS. Dalam Perang Vietnam, Uni Sovyet mendukung berdirinya Vietnam Utara bahkan mendapat peran pangkalan AL di Cam Ranh. Sementara Vietnam Selatan didukung Perancis dan selanjutnya dukungan besar dari AS.
c. Perlombaan senjata
Pada mulanya pembuatan senjata nuklir terjadi pada akhir PD II dengan hasil bom atom. Pada tahun 1949, Uni Sovyet berhasil mengadakan uji coba ledakan bom atom yang pertama. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan reaksi dari AS. Sejak itulah dilakukan perlombaan senjata. Pada Nopember 1952, AS berhasil membuat bom hidrogen, namun Uni Sovyet menyusul sembilan bulan berikutnya. Penelitian dan riset tentang senjata pemusnah massal terus dikembangkan dengan tujuan untuk memperlihatkan kemampuan dalam memperebutkan hegemoni dunia. Pusat-pusat peluncuran (silo) dibangun di berbagai negara yang ada dalam pengaruhnya. Berikut gambaran mengenai perlombaan senjata :

Jenis Persenjataan Uni Sovyet USA
Rudal balistik berpangkalan di darat 1398 1052
Rudal yang dilontarkan dari kapal selam 989 584
Pesawat pembom berawak dengan rudal 150 376
Kendaraan MIRVS 4872 6774
Kekuatan Nuklir Medan: Rudal 860 108
Kekuatan Nuklir Medan: Pesawat Pembom 880 218
Tank artileri 45.000 17.000
Senjata artileri 19.400 9.500
Senjata Anti Pesawat Udara 6.500 5.300
Pelontar Rudal Darat ke Udara 6.300 1.800
Pelontar Rudal Darat ke Darat 1.200 350
(sumber data dari Jurnal Analisis tahun 1983).

d. Perlombaan teknologi ruang angkasa
Dalam perkembangannya perlombaan mengarah ke ruang angkasa. Tahun 1957, Uni Sovyet berhasil meluncurkan Sputnik I tanpa awak dan diikuti Sputnik II yang membawa seekor anjing. AS mengimbangi dengan meluncurkan Explorer I tahun 1958 dan disusul Explorer II, Discoverer dan Vanguard. Uni Sovyet melampaui dengan meluncurkan Lunik dan mendarat di bulan. Selanjutnya diimbangi AS dengan pendaratan manusia di bulan.

Pada bulan April 1961, Uni Sovyet berhasil mengirim kosmonotnya Yuri A. Gagarin ke ruang angkasa dengan pesawat Vostok I dan mengitari bumi 1 jam 29 menit. AS menyusul dengan astronoutnya Alan Bartlett Shepard Jr. pada tahun 1961. Uni Sovyet kembali meluncurkan Vostok II dengan astronotnya Gherman Stepanovich Titov. Disusul AS meluncurkan Friendship VII dengan John
H. Glenn. Kegiatan lomba teknologi luar angkasa ini berlangsung terus hingga tahun 1980an.
Pada bulan Maret 1983, presiden Ronald Reagan mengusulkan Strategic Defence Initiative (SDI atau dikenal Prakarsa Pertahanan Strategis atau Strategi Perang Bintang). Hal ini memunculkan protes Uni Sovyet yang menganggap bertentangan dengan persetujuan ABM Treaty.
e. Kegiatan mata-mata
Kegiatan mata-mata atau spionase mewarnai kondisi politik selama perang dingin. Tujuannya mencari informasi atau rahasia negara yang sengaja ditujukan terhadap lawan. Setiap Negara membentuk dinas rahasia, misal AS dengan CIA, Uni Sovyet (KGB), Inggris (MI 6). Masing-masing dinas rahasia kadang berperan dalam membantu terciptanya peristiwa di dunia, contoh Insiden Teluk Babi tahun 1961.
f. Sistem Aliansi
Setiap negara yang bertentangan berusaha memperkuat diri dengan bergabung dalam aliansi
Beberapa aliansi yang terbentuk yaitu:
1) Pembentukan Cominform (The Communist Information Bureau) tahun 1947 sebagai wadah
kerjasama partai-partai komunis Eropa yang berpusat di Beograd (Yugo).
2) Perjanjian RRC dan Uni Sovyet tahun 1950 yaitu kerjasama untuk menghadapi
kemungkinan agresi Jepang.
3) Pembentukan NATO tahun 1949.
4) Pembentukan Pakta Warsawa tahun 1955.
5) Pembentukan ANZUS tahun 1951 yang terdiri dari AS, Australia dan Selandia Baru.
6) Pembentukan SEATO yaitu kerjasama pertahanan negara-negara Asia tenggara dengan pihak barat. Anggotanya: AS, Inggris, Perancis, Philipina, Singapura dan Selandia Baru.

Kehidupan dunia internasional pada masa perang dingin diliputi ketegangan. Timbul adu kekuatan dan keunggulan Uni Sovyet dengan Amerika Serikat atau bipolarisasi sejak akhir perang dunia II. Kedua negara berusaha mencari kawan baik kepada negara Eropa maupun negara yang baru merdeka. Negara berkembang dan terbelakang dipersenjatai oleh kedua adikuasa. Dengan demikian semakin luas keretakan dan pemisahan negara di dunia. Memasuki tahun 1950an, terjadi pergeseran bipolarisasi menjadi multipolar, dimana berkembang persaingan blok Barat dengan blok Timur. Hal ini disebabkan kemampuan membuat dan memiliki senjata nuklir telah dikuasai oleh negara Eropa (Inggris dan Prancis). Perkembangan ini berakibat percaturan politik dunia menjadi
semakin rumit.


D. Hubungan Pemerintah Komunis di Cina, Perang Korea dan Revolusi Kuba Dengan Perluasan Perang Dingin ke Luar Eropa
1. Pemerintah komunis di Cina
Pada saat perang dunia II, kekuatan nasionalis dan komunis di Cina bersatu dalam
menghadapi serangan musuh bersama. Namun, setelah perang usai, kedua kekuatan bersaing dan berlanjut dalam perang saudara (1945 1949). Perang saudara berakhir dengan tersingkirnya kaum nasionalis dibawah Chiang Kai Shek ke pulau Formosa dan mendirikan negara Republik Cina atau Taiwan. Sedangkan kekuatan komunis membentuk Republik Rakyat Cina (RRC) pada tanggal 1 Oktober 1949 dengan ibukota Beijing dibawah Mao Zedong. Terbentuknya RRC ini disusul dengan mengalirnya bantuan militer dan ekonomi dari Uni Sovyet. Kemampuan yang dimiliki Cina ternyata
memunculkan kekhawatiran bagi negara blok Barat.

Suasana perang dingin di Asia makin kompleks sejalan dengan kebijakan RRC yang berusaha memperluas ajaran Mao Zedong ke negara-negara berkembang lainnya dan timbul kebijakan ekspansi wilayah. Tibet merupakan daerah pertama yang terkena kebijakan RRC (1950). Kekuatan Cina ini ternyata menimbulkan kekhawatiran AS dan Uni Sovyet. Hal ini disebabkan perannya dalam Perang Korea (1950 1953) dan klaim atas Taiwan. Hubungan baik Cina dengan Uni Sovyet berakhir pada tahun 1960an. Hal ini disebabkan Cina sangat mengecam kebijakan Sovyet yang hidup berdampingan dengan blok Barat. Hal ini Nampak pada penghentian pengiriman tenaga ahli ke Cina oleh Sovyet serta penolakan Uni Sovyet untuk membantu Cina dalam perang perbatasan dengan India (1962).

2. Perang Korea (1950 1953)
Pada akhir perang dunia II, Uni Sovyet menyerbu Korea dari arah utara dan menghancurkan sisa kekuatan Jepang pada tanggal 12 Agustus 1945. Selanjutnya pada September 1945, USA mendaratkan pasukan di Korea bagian selatan. Sehingga di semenanjung Korea terdapat dua pendudukan yaitu Korea bagian utara diduduki Uni Sovyet dan Korea bagian selatan diduduki USA dengan batas garis lintang 38 °.
Pada tahun 1948, sebagian besar pasukan AS ditarik pulang dan hanya meninggalkan dalam jumlah kecil penasehat militer. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pemerintah Republik Korea (Korsel) tanggal 15 Agustus 1948. Ibukota Korea Selatan di Seoul dengan presiden pertama, Dr. Syngman Rhee.
Uni Sovyet mengambil kebijakan dengan membentuk negara di wilayah utara yaitu Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) pada tanggal 1 Mei 1948. Sebagai presiden diangkatlah KimIl Sung. Segera Uni Sovyet mengadakan perjanjian tentang pemberian bantuan ekonomi, militer dan teknologi dengan Korea Utara. Korea Utara juga menjalin hubungan dengan Cina.
Dalam perkembangan berikutnya, 60 ribu tentara Korea Utara menyerbu Korea Selatan pada tanggal 25 Juni 1950 dengan dalih untuk menyatukan kembali Korea. PBB dengan pengaruh besar USA turun tangan dan membantu Korea Selatan. Anggota PBB memberi bantuan militer ke Korea
Selatan dan dibentuk pasukan PBB yang terdiri atas 16 negara anggota. Hal ini mengawali pecahnya
Perang Korea selama 3 tahun (1950 1953). Dalam serbuan awal tersebut, Korea Utara berhasil menguasai Seoul sebagai ibukota Korea Selatan.
Bantuan PBB dibawah Mc. Arthur kepada Korea Selatan berhasil mendesak mundur tentara Korea Utara sampai melewati garis 38 ° LU. Pergerakan tentara Korea Selatan yang didukung penuh PBB berhasil masuk Korea Utara hingga batas wilayah Manchuria. Dalam kondisi terdesak, Korea Utara mendapat bantuan RRC yang berupa 60.000 pasukan. Dengan demikian dalam perang Korea menimbulkan persaingan antara dua kutub, makin jauh dari perdamaian.
Secara mengejutkan pada tanggal 4 Januari 1951, pasukan PBB terdesak oleh pasukan gabungan Korea Utara Cina. Bahkan ibukota Seoul jatuh ke tangan pasukan gabungan. Setelah melakukan konsolidasi kekuatan, pasukan PBB berhasil merebut kembali ibukota Seoul pada tanggal 12 Maret 1951.
Perang Korea berlangsung selama 3 tahun (1950 1953). Perang dapat diakhiri dengan turut campurnya Uni Sovyet sehingga menghasilkan perjanjian gencatan senjata pada tanggal 27 Juli 1953 di Panumjom. Dalam perkembangan hingga saat ini (lebih dari lima dekade), perang Korea belum mencapai penyelesaian secara permanen. Perang Korea telah menunjukkan adanya persaingan
sengit antara ideologi komunis dan kapitalis. Kedua ideologi berupaya menanamkan pengaruh di semenanjung tersebut.

3. Revolusi Cuba
Wilayah Kuba semula merupakan jajahan Spanyol dalam waktu yang lama. Letak geografisnya yang sangat strategis ternyata menjadi incaran perluasan pengaruh dan ideologi negara adidaya. Di Kuba pada tahun 1868 1878 berlangsung gerakan menuntut kemerdekaan, namun gagal. Berikutnya, pada tahun 1895 dibawah Jose Marti berlangsung Perang Kemerdekaan. AS mendukung gerakan tersebut dengan alasan kapal AS disabotase Spanyol . Selanjutnya Kuba dibawah perlindungan AS hingga tahun 1902. Tahun 1933 kaum revolusioner dipimpin Fulqencio Batista mengambil alih pemerintahan di Kuba dan membentuk pemerintahan diktator. Kondisi rakyat sangat memprihatinkan, sehingga mendorong timbulnya gerakan kudeta dibawah Fidel Castro tahun 1953, namun mengalami kegagalan. Pada tahun 1956, Fidel Castro dan pengikutnya berusaha menggulingkan pemerintahan Batista. Setelah berjuang 3 tahun, maka Batista meninggalkan Kuba dan digantikan Castro (1959). Setelah memerintah, Castro melakukan perubahan pola kehidupan masyarakat Kuba. Pembangunan sekolah dan rumah bagi orang yang tidak mampu dilakukan pemerintah Kuba. Pemerintahan Fidel Castro mengontrol pers, siaran radio dan televisi. Berikutnya pemerintah Kuba melakukan nasionalisasi perusahaan asing yang ada di Kuba. Hal berakibat AS menghentikan hubungan dengan Kuba tahun 1961.
Melihat situasi tersebut, Fidel Castro menjalin hubungan dengan Cina dan Uni Sovyet serta negara komunis lainnya. Hal ini dimaksudkan agar negara komunis mau memberi bantuan ekonomi guna melaksanakan dan melanjutkan pembangunan. AS menjumpai bahwa Kuba telah masuk blok komunis dan membahayakan keselamatan negaranya (ingat jarak AS Kuba hanya 10 mil). Sehingga AS berniat untuk menggulingkan pemerintahan Castro. AS menggunakan cara memanfaatkan pelarian Kuba yang tinggal di Amerika Serikat. Perkembangan Perang Dingin berlangsung terus, dimana aktivitas Amerika Serikat dan Uni Sovyet meningkat terutama dalam kegiatan mata-mata atau spionase. Uni Sovyet membentuk KGB (Komite Gosudarstevennoy Bezopasnosti) yang merupakan dinas intelijen sipil Uni Sovyet. Sedangkan USA membentuk CIA (Central Intelligence Agency) sebagai dinas intelijen USA. Kedua
pihak berusaha mencari informasi rahasia mengenai segala hal dari pihak lain atau negara dibawah pengaruh pihak lain. Selama kurun waktu Perang Dingin, KGB dan CIA turut berperan dalam membantu terciptanya berbagai peristiwa di dunia.
Pada tanggal 17 April 1961, CIA membantu orang Kuba di perantauan untuk melakukan
serangan ke Kuba dengan bentuk penyusupan dan pendaratan ke daerah tersebut. Peristiwa ini dikenal dengan Insiden Teluk Babi. AS mengirimkan sejumlah 1.200 orang Kuba pelarian masuk ke wilayah Kuba. Uni Sovyet memberikan dukungan penuh kepada Fidel Castro, presiden Kuba dalam menghadapi invasi itu. Dari peristiwa ini nampak sekali mengancam perdamaian dunia.
Pada saat-saat terakhir penyerbuan, presiden JF. Kennedy membatalkan misi perlindungan dan pengawalan oleh AS. Sehingga pemerintah Kuba dengan mudah dapat mematahkan penyerangan tersebut. Akibatnya, hubungan Kuba dengan Amerika Serikat menjadi makin renggang. Di sisi lain, Uni Sovyet berusaha makin mendekati Kuba dan menawarkan bantuan ekonomi yang lebih besar. Akan tetapi dengan kompensasi Uni Sovyet diijinkan membangun pangkalan militer dan menempatkan rudal strategisnya di wilayah tersebut. Hal ini memicu ketegangan atau krisis baru antara AS dengan Uni Sovyet. AS menganggap niat tersebut sebagai ancaman langsung terhadap negaranya. Kapal Uni Sovyet yang berencana menuju Kuba dihadang armada Amerika Serikat. Krisis tersebut hampir membawa dunia dalam perang nuklir.
Karena belum berimbang militernya, maka Uni Sovyet membatalkan rencana penempatan perangkat militernya. Sedangkan Amerika Serikat berjanji untuk tidak mencampuri lagi urusan dalam negeri Kuba. Hubungan baik Kuba AS dikembangkan pada tahun 1973. Selanjutnya tahun 1975, embargo ekonomi terhadap Kuba dihapuskan AS. Namun demikian, tahun 1975 hubungan mereka memanas lagi setelah Kuba mengirimkan pasukan ke Angola.
Berdasarkan pengalaman krisis teluk Babi, menyadarkan AS dan Uni Sovyet akan
berbahayanya jika perang terbuka berlangsung. Oleh karena itu untuk meminimalisir kemungkinan perang, maka dilakukan pembicaraan pengurangan senjata.

Berlangsungnya perang saudara di Cina melahirkan pemerintahan komunis Republik Rakyat Cina (1949). Konflik kepentingan di semenanjung Korea memunculkan perang Korea (1950 1953) yang berakibat Korea terpecah atas Korea Selatan dan Korea Utara. Dalam perkembangan berikutnya, upaya perebutan kekuasaan oleh Fidel Castro terhadap Batista memunculkan pula pemerintahan komunis di Cuba. Beberapa peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perang dingin ternyata tidak hanya berlangsung di daratan Eropa dan Amerika, melainkan juga meluas ke kawasan lain di dunia. Dengan demikian dunia internasional terpengaruh, dimana seolah tercekam adanya
pertentangan blok Barat dan Blok Timur, timbul kekhawatiran akan pecahnya perang besar serta terjadinya berbagai peristiwa di seluruh penjuru dunia. Misal perang saudara, konflik antar Negara dan sebagainya.

E. Hubungan Perang Vietnam Dengan Perkembangan Politik di Asia Tenggara
Sehubungan dengan usainya perang dunia II, negara Eropa berusaha kembali berkuasa di kawasan Asia dan Afrika, termasuk didalamnya kawasan Indochina. Daerah Indochina merupakan jajahan Perancis. Setelah perang, Perancis ingin berkuasa lagi di Indochina. Keinginan Perancis ternyata mendapat dukungan Inggris. Namun mendapat perlawanan sengit dari Viet Minh atau Liga Vietnam Merdeka dibawah pimpinan Ho Chi Minh.
Memasuki tahun 1946, wilayah Vietnam bergolak dengan terjadinya pertempuran Viet Minh dengan Perancis yang dibantu Inggris. Perancis menggunakan cara mengangkat Bao Dai sebagai penguasa Vietnam pada tahun 1949. Sejak tahun 1950, AS mulai terlibat dalam masalah Vietnam dengan memberi bantuan paket ekonomi dan militer kepada pemerintahan Vietnam bentukan Perancis. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat digunakan untuk memerangi Viet Minh.
Viet Minh yang telah ada pada jaman pendudukan Jepang, sejak tahun 1949, mulai
mengkonsolidasi kekuatannya kembali. Hal ini disebabkan dukungan / bantuan persenjataan dari Cina dan Uni Sovyet. Dengan demikian masalah Vietnam meluas menjadi masalah internasional.
Selanjutnya Viet Minh kembali melancarkan serangan pada pertahanan Perancis (ingat pada pertempuran memperebutkan benteng Dien Bien Phu). Atas desakan Cina dan Uni Sovyet, Viet Minh bersedia melakukan perundingan Berlin (Jerman) pada bulan Pebruari 1954 yang membahas masalah perang Korea dan Perang Vietnam. Dalam pelaksanaan konferensi Jenewa tanggal 20 Juli1954, disepakati :
a. Mengakui kemerdekaan negara Kampuchea, Laos dan Vietnam.
b. Menyetujui wilayah Vietnam terbagi atas Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.
c. Akan segera diadakan pemilu bulan Juli 1956 untuk menyatukan Vietnam.
Perjanjian Jenewa tidak mampu menyelesaikan masalah Vietnam. Vietnam terbagi dua yaitu Vietnam Utara berhaluan komunis dan Vietnam Selatan berhaluan liberal. Hal ini ditolak oleh Ho Chi Minh yang tetap menghendaki Vietnam bersatu. Keadaan menjadi genting, Ho Chi Minh mengirim tentara ke arah selatan yang didukung oleh Uni Sovyet dan Cina. AS mendukung Vietnam selatan, sehingga pecah perang Vietnam.
Dalam perang Vietnam bertemulah benturan kepentingan blok Barat yang mendukung
Vietnam Selatan dan blok Timur yang mendukung Vietnam Utara. Dalam berbagai pertempuran, kedua pihak banyak mengalami kerugian material dan jiwa, misal pertempuran Tahun Baru Tet
1968 (The Tet Offensive).
Upaya perdamaian terus dilakukan, dimana tahun 1970an awal berlangsung perundingan Vietnam Utara, Vietnam Selatan dan Amerika Serikat di Paris. Tahun 1972, AS mengumumkan Indonesia, Kanada, Polandia, dan Hongaria sepakat menjadi pengawas gencatan senjata di Vietnam. Kesepakatan menjadi kacau, setelah Viet Minh dan gerilyawan Vietnam Selatan (Viet Kong) melakukan serangan besar-besaran yang hampir menguasai Saigon, ibukota Vietnam Selatan (3 April1972). Keadaan dalam negeri Vietnam Selatan mengalami perubahan besar. Presiden Nguyen Van Thiew mengundurkan diri dan menunjuk wakilnya, Tran Van Huong sebagai penggantinya. Perang terus berlanjut, dimana Vietnam Selatan mengalami banyak kekalahan, bahkan Saigon dapat diduduki Vietnam Utara (18 April 1975).
Pada tanggal 30 April 1975, presiden Duong Van Minh menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Vietnam Utara. Sebagai puncak perang, maka tentara Vietnam Utara menyerang langsung ke Saigon dan berhasil. Selanjutnya Saigon diubah menjadi Ho Chi Minh City dan wilayah Vietnam bersatu kembali.
Setelah Vietnam bersatu dan berbentuk Republik Demokratik Vietnam yang berhaluan
komunis, maka negara tersebut segera memperluas pengaruhnya. Laos berhasil dijadikan Negara komunis. Selanjutnya upaya perluasan pengaruh dilakukan ke Kamboja. Hal ini nampak dengan invasi Vietnam ke Kamboja pada 7 Januari 1979. Peristiwa ini memicu ketegangan baru di Asia Tenggara dan menjadi persoalan rumit bagi ASEAN maupun dunia yang baru diselesaikan pada tahun 1992.
Selesainya perang Vietnam, membawa kekalahan besar bagi pihak Amerika Serikat. Upaya mereka untuk membendung pengaruh komunis di Asia Tenggara, khususnya di Indochina mengalami kegagalan. Hal ini ditindaklanjuti dengan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan negaranegara Asia Tenggara lainnya. Di Philipina, Amerika Serikat memiliki pangkalan strategis untuk mengawasi perkembangan pesaing utamanya yaitu dari pangkalan Clark dan Subic. Sedangkan Uni Sovyet berada di pangkalan teluk Camp Ranh. Dengan demikian di Asia Tenggara mengalami ketegangan baru dengan kehadiran dua negara adidaya. Usaha untuk meredakan dan mengurangi ketegangan terus dilakukan dengan kesepakatan bersama dalam konsep ZOPFAN.

F. Ciri Politik Luar Negeri Indonesia
Politik luar negeri Indonesia dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “Ikut melaksanakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Hal ini menunjukkan keinginan bangsa Indonesia dalam melakukan hubungan internasional dan menjadi sumber utama bagi politik luar negeri Indonesia yaitu bebas aktif.

Adapun tujuan pokok politik luar negeri Indonesia meliputi :
1. Mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dan ikut menjaga kedaulatan negara.
2. Perdamaian internasional, karena hanya dalam keadaan damai Indonesia dapat membangun untuk mensejahterakan rakyatnya.
3. Persaudaraan antara semua bangsa sebagai pelaksanaan cita-cita yang tercantum dalam UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konskuen. Untuk mencapai tujuan di atas, maka bangsa Indonesia melaksanakan dengan :
1. Politik damai, dalam arti berperan aktif ikut serta dalam membina perdamaian dunia.
2. Bersahabat dengan semua bangsa tanpa melihat etnis, warna kulit, dan agama dengan dasar saling menghargai dan menghormati dan tidak ikut mencampuri urusan dalam negeri Negara masing-masing.
3. Memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan organisasi internasional untuk menyusun perdamaian yang abadi.
4. Berusaha melalui PBB untuk mencapai kemerdekaan bagi bangsa-bangsa yang belum merdeka. Politik luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif. Bebas dalam arti bahwa Indonesia menempuh cara sendiri dalam menanggapi masalah-masalah internasional. Sedangkan aktif berarti Indonesia berusaha semaksimal mungkin untuk ikut memelihara perdamaian dan meredakan ketegangan dunia. Hal ini dapat dicontohkan pelaksanaan KAA tahun 1955 dan KTT Non Blok, dan
keikutsertaan dalam misi pasukan penjaga perdamaian dibawah PBB.
Politik luar negeri Indonesia mencapai kemajuan besar sebagaimana tahun 1955 (KAA), yaitu saat Indonesia dipercaya menjadi ketua Gerakan Non Blok (1992 1995). Selain didasari isi pembukaan UUD 1945, juga didasarkan pada Tap MPR tahun 1993 yang menyatakan bahwa politik luar negeri bebas aktif perlu ditingkatkan dan diabdikan bagi kepentingan nasional. Sebagai ketua Gerakan Non Blok, Indonesia membawa mandat yang berhasil dijalankan dengan baik, yang meliputi
1. Memperjuangkan kemitraan global Utara Selatan.
2. Upaya meningkatkan hubungan dengan lembaga keuangan internasional agar memberikan sumbangannya secara aktif.
3. Kerjasama Selatan Selatan dalam GNB.
4. Pembahasan masalah krisis hutang luar negeri.
5. Masalah pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
6. Keterlibatan dalam isu politik, konflik dan ketegangan keamanan sebagai sarana bagi
penyelesaian konflik.
7. GNB terus mematuhi posisi yang dianutnya.
8. Pertikaian di antara sesama anggota GNB.
G. Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia Sebelum Dan Setelah Peristiwa G30 S
1. Sebelum peristiwa Gerakan 30 September / PKI
Sejak pengakuan kedaulatan, Indonesia melakukan politik luar negeri bebas dan aktif. Selama masa RIS, dikembangkan hubungan dengan negara Asia dan negara Eropa Barat. Hal ini ditujukan untuk kepentingan ekonomi dan pembangunan Indonesia yang masih berkiblat ke Eropa. Pusat pemasaran produk Indonesia di Amsterdam dan pembangunan pasaran ekonomi masih perlu bantuan Amerika Serikat. Praktik ini berkembang terus sejak Indonesia diterima menjadi anggota PBB pada September 1950.
Pada masa kabinet Sukiman (1951 1952) menempuh kebijakan menyimpang dari politik luar negeri yaitu pertukaran nota dengan duta besar AS di Indonesia, Merle Cochran. Nota tersebut berisi bantuan teknik, ekonomi dan militer dari AS dalam ikatan Mutual Security Act (MSA). Kebijakan ini mendapat reaksi dari berbagai pihak yang menilai pemerintah telah meninggalkan prinsip bebas aktif dan memasukkan Indonesia dalam salah satu blok/ kelompok.
Dalam pemerintahan Wilopo (1952 1953) dan selanjutnya tetap dilakukan kebijakan yang berdasarkan pada prinsip bebas aktif. Masa pemerintahan Ali I (1953 1955), pelaksanaan politik luar negeri tersebut lebih mendekatkan diri pada negara-negara Asia Afrika dan blok sosialis. Upaya menggalang solidaritas bangsa Asia Afrika ditujukan untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan meredakan ketegangan dunia akibat perang dingin. Kebijakan ini tampak dari penyelenggaraan KAA tahun 1955 dan hasil-hasilnya.
Dalam pelaksanaan politik luar negeri tahun 1950an, selain aktif ikut menciptakan
perdamaian dunia, Indonesia juga memiliki tujuan sesuai dengan amanat proklamasi. Tujuan tersebut adalah kemerdekaan Indonesia yang wilayahnya bekas jajahan Hindia Belanda. Pada saat itu, Irian barat masih dikuasai Belanda. Upaya membebaskan wilayah Irian Barat ditempuh melalui pertemuan bilateral (Indonesia Belanda) dan multilateral (PBB). Melalui penyelenggaraan KAA tahun 1955, diambil keputusan KAA berupa Dasasila Bandung serta peserta mendukung sepenuhnya perjuangan Indonesia untuk mendapatkan kembali wilayah Irian Barat.
Hubungan Indonesia dengan Belanda memburuk karena Belanda menolak untuk merundingkan penyerahan Irian Barat (1956). Oleh karena itu ditempuh tindakan sepihak dengan tidak mau mengakui hutang negara seperti yang tercantum dalam isi KMB tahun 1949. Dalam suasana tersebut, kondisi dalam negeri mengalami gangguan keamanan. Timbul pemberontakan PRRI / Permesta tahun 1958. Dalam pemberontakan tersebut, nampak keterlibatan pihak asing dengan
membantu pihak pemberontak. Peristiwa ini sedikit banyak akan mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia.
Pada masa pelaksanaan Demokrasi Terpimpin, politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif berubah menjadi politik yang condong ke blok komunis. Hal ini nampak dari beberapa kebijakan misal dilakukannya kebijakan politik konfrontasi. Politik konfrontasi menciptakan negara Nefo (New Emerging Forces) berhadapan dengan Oldefo (Old Established Forces). Konsep ini setingkat dengan doktrin komunis. Untuk mempererat hubungan diantara anggota Nefo, maka direncanakan kegiatan Ganefo.
Kondisi demikian berakibat hubungan Indonesia dengan Barat menjadi renggang, sedangkan hubungan dengan blok timur makin erat. Hal ini didasari pengalaman bahwa dalam perjuangan pembebasan Irian Barat, Belanda didukung oleh Amerika Serikat. Indonesia lebih mendapat dukungan dari Uni Sovyet. Keberhasilan dalam pembebasan Irian Barat, membuat Indonesia merasa cukup bangga dan nasionalismenya dalam tingkatan sangat tinggi. Dalam suasana demikian, Indonesia mencanangkan Dwikora yang menunjukkan politik konfrontasi sehubungan dengan pembentukan negara Malaysia. Politik ini menimbulkan konflik Indonesia Malaysia dan reaksi dalam negeri sampai pecahnya Gerakan 30 September / PKI. Indonesia memutuskan keluar dari
keanggotaan PBB.
Dengan demikian politik luar negeri yang bebas aktif, karena dilatarbelakangi berbagai factor intern dan ekstern berubah menjadi politik konfrontasi dan cenderung memihak kepada blok komunis.

2. Sesudah peristiwa Gerakan 30 September / PKI
Pemerintahan Orde Baru yang terbentuk setelah peristiwa G 30 S / PKI, berupaya
memurnikan kembali politik luar negeri yang bebas aktif sebagai pelaksanaan Tap MPRS No XII/ MPRS/ 1966. Sebagai konskuensinya, politik konfrontasi dengan Malaysia dihentikan, bahkan normalisasi hubungan dengan Malaysia dicapai dengan Jakarta Accord tanggal 11 Agustus 1966. Pemerintah memutuskan untuk aktif kembali menjadi anggota PBB tanggal 28 September 1966. Hal ini dalam usaha mengembalikan kepercayaan dunia internasional serta menumbuhkan saling pengertian yang bermanfaat bagi pembangunan Indonesia ke masa depan.
Indonesia yang lebih mengedepankan konsep pembangunan ekonomi, mengembangkan politik luar negeri yang bebas aktif. Hal ini dilakukan dengan harapan akan tercipta iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan pembangunan ekonomi Indonesia. Adanya prioritas pembangunan ekonomi, mendorong pihak Indonesia mengembangkan hubungan dengan dunia internasional secara luas. Guna mendapatkan dana bantuan luar negeri, Indonesia merintis terbentuknya forum kerjasama bagi Indonesia yaitu IGGI (Inter Governmental Group on Indonesia) yang pada perkembangan berikutnya berubah menjadi CGI (Consultative Group on Indonesia ).
Dalam pelaksanaan politik bebas aktif, Indonesia bersama Philipina, Malaysia, Singapura dan Thailand merintis berdirinya organisasi regional ASEAN pada tanggal 8 Agustus 1967. Organisasi ini pada masa berikutnya akan mengambil peran penting dalam upaya meredakan ketegangan dunia dan mengatasi masalah regional Asia Tenggara. Akibat peristiwa G 30 S / PKI, maka Indonesia membekukan hubungan diplomatik dengan RRC. Kondisi ini berlangsung selama kurang lebih tiga dekade. Indonesia terus mengembangkan politik luar negeri yang bebas dan aktif, dimana aktif ikut dalam berbagai organisasi regional maupun internasional. Organisasi OKI, OPEC, Non Blok dan sebagainya juga diikuti dengan baik dan prestasi yang membanggakan. Bahkan pada tahun 1992, Indonesia dipercaya menjadi penyelenggaraan KTT Gerakan Non Blok sekaligus menjadi Ketua selama tiga tahun. Suatu kepemimpinan dalam kondisi yang sulit, namun dapat dilaksanakan
dengan baik. Hal ini disebabkan kondisi saat itu, perang dingin sudah selesai. Non Blok
mengedepankan kegiatan dalam menjaga perdamaian dan mengembangkan hubungan timur barat dan hubungan selatan selatan serta hubungan utara selatan.
Selain melalui organisasi regional dan internasional, Indonesia juga aktif menjaga perdamaian dunia. Indonesia ikut aktif menyumbangkan misi penjaga perdamaian dibawah PBB, melalui misi Garuda. Dalam konflik Vietnam, Indonesia mengiriman misi Garuda IV dan disusul beberapa misi berikutnya. Dalam konflik Kamboja Indonesia mengirimkan misi terbesar dalam sejarah dengan kontingen Garuda X tahun 1992 dan membawa nama harum Indonesia di dunia internasional.
Bahan Acuan :
Untuk mempelajari materi ini, silakan baca lebih lanjut :
CSIS. 1987. Analisa Tahun 1987.2. Tahun XVI no 2. Pebruari 1987
--------. 1988. Analisa Tahun 1988.3. Tahun XVII no 3 Maret 1988
Djalinus Syah. 1985. Mengenal ASEAN dan Negara-Negara Anggotanya. Jakarta: Kreasi Jaya
Utama
--------. 1988. Indonesia Dalam Abad 20 Jilid 2. Jogjakarta: Kanisius
Marwati Djoenod Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional
Indonesia Jilid V dan VI. Jakarta: Balai Pustaka
Mochtar Kusumaatmadja. 1983. Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaanya Dewasa
Ini. Bandung : Alumni
Nana Supriyatna. 2001. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk SMU kelas III. Jakarta:
Grafindo Media Pratama
Negara dan Bangsa Jilid Khusus Pasca Komunis. 1989. Grolier International: Incorporated
PT. Widyadara
Ricklefs, MC. 1999. Sejarah Indonesia Modern. Jogjakarta: Gajah Mada University Press
Sardiman, AM. 1983. Analisis Kemenangan Komunis Vietnam dan Pengaruhnya terhadap
Perkembangan Politik di Asia Tenggara. Jogjakarta: Liberty
Suhartono dan Syamsul Rizal. 2007. Sejarah untuk SMA dan MA Kelas XII Program IPS.
Jakarta: Widya Utama
Disusun :
Eko Heru Prasetyo
email : ekoheruprasty69@gmail.com
web : www.sosiosejarah.com
@@@ created by www.sosiosejarah.com @@@

REVOLUSI RUSIA ( 1917 )
Revolusi rusia terjadi pada tahun Februari 1917- Oktober 1917. Perekonomian rusia sangat kacau, negara kekurangan bahan makanan yang menyebabkan rakyat kelaparan. Peristiwa tersebut menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap Tsar Nicholas II.  Gerakan ini dilatarbelakangi oleh perubahan agraria menyebabkan para petani kehilangan tanah miliknya.

Berbagai kejadian tersebut, mengakibatkan penduduk St. Petersburg melakukan aksi protes pada februari 1917. Aksi tersebut dilakukan oleh para buruh di berbagai perusahaan.Untuk mengatasi keadaan tersebut, tentara diperintahkan untuk menembaki para demonstran dan para buruh yang melakukan aksi mogok. Tetapi perintah tersebut tidak ditaati oleh para tentara. Akibatnya golongan Kadet, Menshevik, dan Bolshevik memaksa Tsar Nicholas II untuk turun tahta. Setelah Tsar Nicholas II turun tahta, Kadet menggantikan kepemimpinan tetapi tuntutan rakyat tidak dikabulkan karena golongan ini masih ragu untuk mengadakan perubahan karena situasi yang tidak menentu.Keadaan tersebut dimanfaatkan golongan Menshevik yang dipimpin Karensky melakukan kudeta, dan berhasil menggulingkan golongan Kadet. Langkah pertama yang dilakukan Karensky adalah mengumumkan berdirinya Republik Rusia, mengembalikan nama baik Rusia yang telah merosot dimata internasional akibat kekalahan Rusia atas Jepang pada tahun 1905.

Karensky juga memimpin serangan terhadap Jerman tetapi karena gagal maka menyebabkan rakyat tidak percaya lagi pada pemerintahan Menshevik yang dipimpin Karensky.Situasi tersebut dimanfaatkan oleh golongan Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin dan Leon Trotsky menyebarkan propaganda kepada rakyat. Mereka membentuk tentara sendiri yang disebut Tentara Merah. Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1917, golongan Bolshevik dapat menggulingkan pemerintahan Menshevik.Golongan Bolshevik dibawah pimpinan Lenin mulai mengadakan perubahan sesuai dengan propaganda yang telah dilakukan.Di antaranya dengan membagi-bagikan tanah kepada petani, memperbolehkan para buruh menyita pabrik-pabrik, membagi-bagikan makanan kepada penduduk, memghapuskan semua utang-piutang pemerintahan sebelumnya, dan bank-bank menjadi milik negara.

Dampak Revolusi Rusia terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
1.                 Menimbulkan munculnya paham Marxisme(ajaran Karl Marx) /Leninisme (ajaran Lenin)
2.                 Paham Komunis yang berkembang di Rusia, menyebabkan timbulnya paham komunis di Indonesia.
3.                 Dengan demikian, mumcullah tokoh-tokoh Komunis yang akhirnya ingin mendirikan negara Komunis di Indonesia.
4.                 Muncul pemberontakan PKI bulan November di Jakarta, September 1948, Oktober 1965 di Jakarta.


Revolusi Rusia telah berhasil menumbangkan kekuasaan Tsar Nicholas II yang memerintah secara diktator. Rakyat Rusia yang merasakan kehidupan di berbagai bidang akibat kediktatoran Tsar Nicholas II, akhirnya berhasil menghimpun kekuatan dan menentang kekuasaannya dalam bentuk revolusi. Revolusi Rusia telah berhasil menumbangkan kediktatoran Rusia. Di samping itu, Revolusi Rusia yang berpaham komunis akhirnya berhasil merubah haluan negara tersebut ke arah negara komunis.

Seperti revolusi-revolusi lain, Revolusi Rusia juga membawa dampak baik bagi Rusia sendiri maupun bagi negara-negara di kawasan di dunia termasuk Indonesia. Pengaruh Revolusi Rusia terhadap perkembangan pergerakan nasional di Indonesia tampak jelas dengan berkembangan paham Marxis yang kemudian melahirkan Partai Komunis Indonesia.

Benih-benih Marxisme dibawa masuk ke Indonesia oleh seorang Belanda yang bernama H.J.F.M. Sneevliet. Atas dasar Marxisme inilah pada tanggal 9 Mei 1914 di Semarang, Sneevliet bersama-sama dengan J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bersgma berhasil mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). Sneevliet kemudian melakukan infiltrasi (penyusupan) kader-kadernya ke dalam tubuh Sarekat Islam dengan menjadikan anggota-anggota ISDV sebagai anggota Sarekat Islam, dan sebaliknya anggota-anggota Sarekat Islam menjadi anggota ISDV.

Dengan cara ini Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan Sarekat Islam, lebih-lebih setelah berhasil mempengaruhi beberapa pemimpin Sarekat Islam, seperti Semaun dan Darsono. Akibatnya, Sarekat Islam Cabang Semarang yang sudah berada dibawah pengaruh ISDV semakin jelas warna Marxismenya sehingga menyebabkan perpecahan dalam tubuh Sarekat Islam. Pada tahun 1919 ISDV diubah menjadi Partai Komunis Hindia dan selanjutnya pada bulan Desember 1920 menjadi Partai Komunis Indonesia.f

Tidak ada komentar:

Posting Komentar