Berawal dari pengiriman saya ke kampus pusat Lim Kok Wing di Malaysia, dalam rangka mengikuti training assisten dosen jurusan Mass Communication, saya lalu menanyakan kepada Oom Google tentang wisata sejarah& budaya yang dimiliki negara tetangga kita ini, melebarkan sayap travelling saya nih, ceritanya he2.
Melaka adalah sebuah kota tua yang dulunya pernah dijajah oleh 3 negara, Portugis, Belanda dan Inggris. Dengan begitu kota ini arsitektur gedung-gedungnya menjadi sangat menarik karena ketiga gaya arsitektur negara bekas penjajahnya bisa anda temukan di kota ini. Gereja Melaka yang merah, Menara Jam, dan Air Mancur Victoria, menjadi titik keramaian warga dan wisatawan merasakan kejayaan masa lampau Malaka. Demikian juga dengan makanannya, ada makanan ala Portugis, Chinese, India, Western Food dan masih banyak lagi.
Layaknya kota tua, Malaka memberikan suguhan pariwisata berupa “perjalanan ke masa lalu” melalui museum dan bangunan bersejarahnya. Maka jangan heran kalau setiap kaki melangkah menyusuri jalanan di kota ini akan selalu bertemu dengan musium. Selain musium, ada juga beberapa wahana wisata baru yang dibangun, tapi ini menurut saya tidak penting karena citra wisata kota ini adalah kota tua. Sehingga saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu dalam “perjalanan ke masa lalu”.
Bila ingin ke Malaka melalui KL (seperti saya), kamu bisa melalui rute ini: KL central – Bandar Tasik Selatan (dengan KLIA transit, 4.2 RM) – Melaka Central Station (dengan Bus, 10 RM). Total biaya untuk perjalanan cuma 14,2 RM, murah kan?
Ketika matahari mulai tenggelam merupakan waktu tepat untuk menaiki Melacca River Cruise. Anda akan diajak menyusuri awal mula sejarah Kota Melaka di atas sungai sepanjang 9 KM. Bias cahaya mentari dengan guratan emasnya, semakin cantik berpadu dengan lampu-lampu bangunan dan kafe di sepanjang Sungai Malaka.
Serasa menaiki gondola di Venesia. Apalagi, sungai dan daerah sekitarnya adalah tempat yang cukup bersih. Tidak sedikit orang yang berjalan-jalan di tepian sungai ataupun duduk-duduk di kafe untuk sekadar bercengkrama ataupun menikmati alam pikirannya masing-masing.
Di Melaka, tarif hotel tidaklah terlalu mahal. Untuk yang kelas biasa, bukan hotel berbintang, harganya berkisar antara 100-150 RM untuk satu malam. Bila ingin lebih murah, carilah hostel. Saya waktu itu memilih Accordian Hotel, dengan sedikit tawar menawar (gak tau juga kenapa hotel bisa ditawar), kami akhirnya menyewa kamar untuk bertiga, dengan biaya 80 RM (penawaran awal 100 RM) untuk satu malam.
Kalau sudah sampai di sini, jangan lupa untuk mencicipi masakan ala peranakan atau mencoba cendol durian Malaka yang tersohor. Yummy :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar